Yes. I am 16. But I do care about these things. It drives in my blood everyday I breathe.
At the beginning, I was just helping a friend of mine making a speech. This is the draft.
take a closer look.

Honorable Readers….
Regarding my speech, I was just thinking about biggest event our country will hold. Yes, general election for choosing the president and the vice president. And, TV channel has offered you what you want, so do the newspapers and the talk shows. The question is, do you really care? I mean, the youths? The paradigm developing in the society told that “youths are apolitical”. And, yes, in some sides, that stigma seems true. However, in this speech, I want to explain to all of you that election is not just a folk and is not made for a slight stare. This is an integral sect to be paid attention with and needs a big support from people all over Indonesia: including the youngsters.
First, every single man in Indonesia needs to vote. Even a single number counts. Why is it so hard for taking your name in the voters list and checking the president that you want to vote? As well-known band “Cokelat” say in their song “five minutes for five years”. You only deal with the election for five minutes but your single vote affects the whole five years. Big things come from small things, right? Besides, this big event is also one of the media to show the country that the youths do care about politics and the situation the whole country is dealing with. if you vote, you can also practice your social sense, because indeed, when you vote you have to know the capability of the candidates and you can increase your general insights. Humans are meant to learn, and this election is one of the media to learn, isn’t it?
Second, we have to learn from people’s mistakes. To explain this point, I will tell you the world news dealing with this: the condition of election concerns in Iran. As we know, people in Iran think that the election they had passed do not address democratically. They demonstrated the government because they think the result is unfair. Imagine that this condition happens in Indonesia. People go attacking the government here and there, canceling the access to Indonesia (In Iran, they removed the internet currents to make it isolated) and some stuffs… All those things will not happened if you vote, because you choose the right thing and know that you do the fair thing. This also means that you contribute to the whole Indonesia because you prevent bad things to be happened. And, isn’t contributing to the whole country is the best thing one could ever do? Yes. So, do vote.
So, when you get ready to vote, what do you need for? Yes, you have to choose honestly, rightfully, and democratically. You also have to make sure that the missions the candidates bring with are not truly deviant with the values you’re holding. When you’re up, let’s vote. Give a warm welcome to the 8th July. Go feasting it. Because, maybe we are just taking a few part of Indonesia, but we ARE Indonesia. It is our duty to vote, and go after it.
Januari 2010
Dia terhenti di perjalanan. Mengusap-usap rambutnya yang kejatuhan daun kering. Sekilas ia melihat kearahku, tapi kupandang jelas tatapan tajam itu. Beku, seperti es yang tak pernah bisa cair. Ia membetulkan kerah kemeja berendanya kemudian berlari dari tatapanku. Secepat macan yang berlari di safari afrika. Seakan menghindariku, namun masih. Aku masih memaguti rasa hangat yang biasa menyelubungi hati. Aku yakin satu hal, meskipun kutahu es yang tak pernah cair itu akan tetap menancapi sisi lemahku hingga aku memutuskan meninggalkan. Hei, kau harus tahu. Secepat apapun kau berlari, selama rasa ini masih ada, aku akan tetap mengawasimu dari jendela yang buram ini.
Kenyataannya, jendela ini tak seburam itu.
Aku berjalan menapaki lantai yang penuh pecahan kaca. Kubiarkan rasa nyeri memarahiku dan kuputuskan tetap menapaki lantai keramik ini menuju lantai bawah. Sesekali, kupandangi foto-foto yang berjejaran di tepian dinding. Seakan ingin dikenang. Dan aku percaya, pasti masih bisa dikenang.
Bunyi nyaring mengganggu keheningan sejati yang mulai disebarkan di ruangan kosong yang bagiku nyaris tanpa udara. Aku melangkah menuju sumbernya.
“Halo?” Aku mengucap, berharap suara bening akan menyambutku dan memberikanku sedikit udara.
“Aku ingin menjelaskan.”
Sebuah senyuman mengulas di bibirku. “Jelaskan saja.”
***
Taman Biasa, Januari 2010
Sepertinya ujung rumah itu sudah tidak kelihatan. Huff. Aku boleh lega. Tapi, benarkah naluri ini membimbingku? Aku takut ujungnya yang seperti kenanga hanya mampu digapai mimpi, tapi jalan ini mungkin akan terus berlanjut.
Kuputuskan istirahat sebentar. Di taman biasa yang seperti saksi penting separuh hidupku. Aku memulai, menjalani, dan mungkin, akan mengakhirinya disini. Aku tidak pernah pindah dari tempat ini. Dan kurasa kenyataan itu masih akan berlanjut. Terus saja. Seperti tak pernah habis.
Tak seperti biasanya taman ini terasa jauh. Dahulu, saat ibu dan ayah masih berada di sampingku, setiap hari aku bermain dari rumah kesini seakan seujung kuku. Dekatnya bahkan kurasakan setiap udara mengelusi tubuhku. Namun, seakan mimpi, sekarang terasa begitu jauh. Karena taman biasa ini mungkin sudah membenciku.
Taman ini memang biasa. Sebuah lapangan luas yang dipenuhi pohon yang siklusnya kebanyakan siklus gugur. Setiap kali seingat yang kubisa, aku selalu melihat daunnya berwarna kuning dan akan terus jatuh menekuri kepalaku yang mulai terbiasa dihinggapi daun. Pohonnya tidak basah, kadang berwarna hijau, namun selalu diselubungi daun kuning. Beberapa kursi disediakan di bawah pohon itu, serta tiang-tiang hitam yang aku tak tahu kenapa dibuat. Aku biasanya memasuki selusur taman ini dari pagarnya yang ditandai bebatuan bulat berwarna hijau, dan akan duduk di kursi favoritku – kursi yang berada di pohon ketiga dari tepian kiri lajur taman.
Semua ini ada ceritanya. Dengarkan baik-baik.
***
Januari 2001
“Ibu, Sharon ingin bermain di bawah pohon di taman depan rumah.” Gadis kecil, Sharon White itu, mengambil perkakas mainnya yang sudah lusuh untuk dipakai.
“Sudah delapan tahun kok masih main boneka.” Ucap ibunya ketus.
“Justru ini masa letupan terbesarnya.” Ia membalas riang.
Ia berlari-lari dengan riang, tak peduli matahari sore menembaknya membabi buta. Rasa panas menyengat itu sama sekali tak ia rasakan. Karena ia tahu, sesaat lagi sejuk akan menjelang. Ia rasakan sekali imajinya tertata rapi. Ia masih membawa dua boneka, salah satunya merupakan boneka koboi khas Amerika Selatan yang berbalut pakaian khas cokelat dan celana kulot, dan satu lagi merupakan boneka seorang putri berbalutkan busana vintage berwarna pink.
Yang satu ia namakan sesuai dengan dirinya, Sharon, dan satu lagi ia namai Brian. Tak tahu kenapa, pada suatu malam nama itu terus-terusan terbisik ke telinganya yang masih lugu. Lalu, dengan celotehan khas anak berumur delapan tahun, ia berkata “Semoga aku bisa menemui Brian versi nyata.” Yang berbuah sebuah cubitan dari ibunya yang gemas.
Ia masih berlari, tanpa ditemani siapa-siapa, menuju destinasi taman luas yang ditutupi daun gugur. Setiap hari ia memainkan drama percintaan antara Sharon dan Brian dengan kata-kata yang kacau dan masih berantakan. Drama yang ia adopsi alami dari pertengkaran harian ibu dan bapaknya. Ia tak mengerti sepenuhnya, namun ia rasakan hatinya sedikit tersembili. Namun, apa peduli. Ia tetap bahagia, toh mulut Sharon dan Brian keburu dijahit berupa lengkung senyum. Tak perlu khawatir.
Ia menggilir tempat drama Sharon dan Brian kali ini. Sesuai pohon-pohon yang sudah ia labeli sendiri. Sekarang, giliran pohon ketiga dari tepian lajur kiri. Pohon ini kelihatan paling rapuh karena paling pendek, namun pesona alaminya terpancar paling kuat.
“Nah, sekarang mulai.” Ia berucap. Kemudian menghirup napasnya dalam-dalam.
“Sharon, kau masih sayang padaku?”
Itu kalimat pertama yang terucap dari bibir lugu milik Sharon. Ia terus-menerus berbicara hingga tak menyadari seorang pria mungil berusia tak jauh beda menatapinya dengan heran. Ia mengamati terus gadis mungil yang belum lancar berbicaranya itu, dengan sangat seksama. Terkaget-kaget sendiri karena ia mengucap nama yang sangat mengejutkan. Lalu, dengan gerakan naluriah khas pria, ia mendekati gadis kecil yang namanya belum ia tahu itu.
Tanpa disadari, setitik air mungil menetes di atas tangannya yang ingin menyentuh bahu mungil itu. Hujan. Cuaca yang paling ia tidak sukai. Tapi, untuk gadis ini, ia rasa mau lakukan apa saja.
“Gadis…” Ia berucap lembut.
Gadis berambut cokelat itu perlahan menoleh sebelum terkejut dengan kehadiran pria yang berambut sama tengah menatapinya sambil tersenyum. Nuraninya menggerakkan sendiri ujung bibir yang kaku sehingga membentuk simpul senyum lugu yang khas.
“Kau… siapa?”
“Kenalkan… “ Pria berambut cokelat itu menawarkan tangannya..
“Brian McConnor.”
***
Taman Biasa, Januari 2010
Sekilas senyuman itu terumbar dari mulutku. Semenjak saat itu, tak pernah kulupakan getaran yang pertama kali kurasakan dari seorang bocah polos yang tak mengenal namaku. Semua orang boleh katakan cinta pada pandangan pertama itu omong kosong, tapi jika getaran hangat ini kurasakan pada pertama kali kulihat wujud, bolehkah aku katakan aku memercayainya?
Tapi hari-hari berlalu dengan sangat menyakitkan. Dan taman biasa ini, masih menjadi saksi bisu kisah hidupku.
***
Aku berbicara di telepon,”Benarkah?” Aku menyebut tak percaya.
“Betul.” Suara wanita tua terdengar dari seberang jaringan. “Sembilan tahun yang lalu, semua terjadi begitu cepat. Ibu dan ayahnya mulai bercerai, dan ia dibiayai oleh pamannya. Tapi kenyataan itu begitu berat untuk dilisankan, sehingga ayah dan ibunya tetap tinggal di rumah tua itu dan tetap di tempat yang sama. Alasannya sepertinya tidak hanya itu.”
Aku tersambar. Elektrisasi yang nyata seperti merambat kuat di bawah kulitku. Sesumbar, aku berkata,”Jadi hanya karena alasan itu ia meninggalkanku?”
Wanita di seberang jaringan berkata,”Sudah kubilang belum? Kalau yang namanya cinta sejati itu sudah tertulis duluan di catatan pribadi Tuhan?”
Aku jadi tidak mengerti apa yang sesungguhnya ingin wanita ini katakan.
***
Taman Biasa, Waktu yang Sama
Bulir-bulir air mata jatuh membasahi pipiku. Tak kuasa kutahan rasa ini, rasa meninggalkan getaran hangat yang biasanya selalu membelai dadaku. Haruskah, dengan jalan semalam, aku meninggalkan rasa ini?
Semalam, malam dihiasi petir dan hujan deras. Sama seperti pertemuanku pertama kali. Aku juga masih meringkuk di sisi tempat tidur beralaskan hitam, dengan dia di sebelahku, memelukku erat sambil berkata semua akan baik-baik saja.
Siapa suruh setelah itu aku langsung bangkit dari tempat tidur dan memutuskan menginap di rumahku yang sudah kosong melompong. Malam itu, aku mengetahui semuanya. Semuanya. Kenyataan menyakitkan dari A sampai Z. Bahkan ia tidak mengetahui, malam itu sebuah opsi besar datang menghantui kepalaku dan harus kupilih jika masih ingin melihat senyum itu terpatri di wajahnya yang mulus.
Aku lusuri kepingan memori malam itu.
“Aku ingin kau menikah dengan pria pilihanku.” Suara paman yang tegas serasa menggelegar telingaku yang seakan menancap di ujung ponsel ini. Bagaimana mungkin, pria baik hati yang kukenal selama ini –
“Paman, kenapa begini?” Aku tak sanggup berkata banyak,”biasanya kau manusia pertama yang langsung mengiyakan keinginanku. Kau orang yang mengerti aku lebih dari siapapun, termasuk Brian. Sekarang, kau berubah seratus delapan puluh derajat. Bagaimana mungkin?” Aku terisak.
“Kau…” Suara Paman terdengar geram,”jika masih ingin hidup, makan, dan bertempat tinggal. Kau pergi kesini sekarang. Naik shuttle bus yang telah kusewa, pergi ke tempatku. Paling lambat besok jam enam sore. Jika tidak, aku yakinkan kau tidak akan bisa hidup.”
Aku tersambar. Dan sekarang aku duduk disini. Dengan waktu menunjukkan pukul lima lewat sepuluh puluh menit.
***
“Jadi begitu….” Ucapku lamat. Namun seketika amarah membara dari lubuk hatiku. “Apa maksudnya aku tidak bisa menjamin Sharon hidup?”
Wanita tua itu menjawab,”Sadarkah kau? Ayahmu sedang menghadapi masa-masa sulit, dan ia sedang sekarat. Sebenarnya masih banyak orang yang bisa menghidupi gadis berambut cokelat tembaga itu, tapi banyak juga yang membenci ibunya.”
Aku mendeham,”kenyataannya, aku tidak pernah bersandar kepada uang ayah selama ini.” Aku tersenyum menang. Apa yang aku rencanakan lima tahun lalu ini ternyata tidak sia-sia. “Aku yakinkan kau, Bridgette. Aku bisa, sangat bisa menghidupi Sharon. Apapun yang terjadi. Percayalah – “
Suara di seberang terdengar serak,”Ka… Kalau begitu. Apakah kau akan menyuruh Sharon kesini?”
“Akan kulihat situasinya nanti.”
***
Taman Biasa, Waktu yang Sama
Aku melihat bayangan hitam berjalan mendekatiku. Dan tanpa harus melihatpun, aku tahu siapa pemilik bayangan itu.
“Pergilah, Sharon.” Ujarnya. “Aku sudah tahu semuanya.”
Eh? Apa? Ada apa ini?
“Semuanya kuserahkan padamu.” Ia mulai melihatku dari sudut matanya yang seperti kucing,”Kaulah sang pemilih. Aku mungkin hanyalah seperti pion catur pilihanmu yang mengikuti permainan pion-pion kotak.” Ucapnya dingin.
Namun, sekelebat, kulihat ia berjalan pulang, meninggalkan berkas bayangan hitam yang diselubungi cahaya matahari yang kuat. Ia menunjukkan punggungnya yang silau, namun masih bisa kurasakan hangat itu menjalari.
Samar-samar kudengar suara.
“Pergilah. Aku akan datang menyelamatkanmu jika aku harus. Aku akan datang seperti ksatria jika kusanggup. Aku akan menjemput ratu yang diselubungi bayang-bayang permata kalau memang seperti itu jalannya. Aku akan mengarungi benteng pertahanan terkuat kerajaan setan jika memang itu yang harus kulakukan. Aku akan menyelamatku dengan selamat, itu pasti.”
Aku merinding.
“Karena cinta sejati akan selalu bersama, Sharon. Ingatlah. Kisah ini, pasti memiliki akhir. Akhir apapun yang harus menjadi akhirnya. Tapi, hatiku percaya, akhir ini… pasti akhir yang baik.” Ia menoleh ke arahku sambil mengulas senyum terbaiknya.
Aku menangis. Dan siap, untuk menghadapi semuanya.
***
Padang, Juni 18. Di gulita yang panas.
Kata yang pendek, huh? Tapi sependek apa katanya, sepadat itu pula penjelasannya. Biasanya kata ini disebut untuk padanan vice versa yang bahasa Indonesianya -sebaliknya-.
Huff. Saya sendiri juga tidak tahu mengapa judul tulisan ini harus Versa. Yang jelas saya ingin membuat sebuah opini di situs yang mungkin tidak penting ini.
Kenyataan di sekeliling kita memang terkadang seperti kepala dan kaki. Berseberangan. Dalam suatu waktu, bisa saja kita mendapati kedua adegan yang bertolak belakang saling menyokong satu sama lain. Saya sendiri juga sudah sering menyentil hal ini pada beberapa notes saya di facebook. Bahwa memang kenyataan yang vice versa itu rencanaNya. Kita tidak bisa menolak, selain mensyukuri hal yang ada dan berbuat semaksimal mungkin. Semua orang, saya yakin, akan setuju pada saya jika saya ratapkan hal ini secara tertulis.
Tapi, jika kita berbicara dan mengintip kenyataan yang ada, sangat susah bagi hakikat seorang manusia untuk menerima sisi interdependensi hidup ini. Hal yang baik dan buruk itu seperti roda sepeda yang saling kait mengait, mereka akan selalu ada, dan tidak bisa dijalankan sendirian, unless ada tangan yang mengatur.
Namun, sekarang, berbeda dengan notes saya di facebook yang hanya mengumbar kenyataan, saya akan mencoba mengulas bagaimana kita harus bersikap dengan kenyataan yang tergaris tersebut.
We begin with the goods.
Ini adalah bagian yang paling disukai banyak manusia. Siapa sih, yang tidak suka dilimpahi pujian dan sedang live the life to the fullest ? Nyatanya, bagian ini merupakan salah satu alasan seorang manusia masih mau melanjutkan roda hidupnya, bukan begitu? Manusia ditakdirkan untuk terus mengisi gelas hidup yang diberikan kepada mereka sampai penuh, dalam kondisi ini bukan gelas bocor yang akan membiarkan airnya jatuh ke bawah, bukan juga gelas yang sudah penuh dan tidak bisa diisi lagi.
Bagaimana caranya kita menghadapi pujian demi pujian yang ada?
Jawabannya, saya temukan dalam suatu quotes yang ditulis oleh friend of mine di facebook. Begini tulisannya
Pujian itu seperti permen karet, enak dikunyah, tapi jangan sampai ditelan
Buds, doesn’t it gorgeous to find out the compliments are as same as the gums that you usually eat to find pleasures? Hoho.
Memang benar, enak sekali mengunyah pujian. Selain nikmat, pujian itu juga merupakan sebuah apresiasi. Memberi penghargaan, cherishing, merupakan selubung misteri yang prosesnya pun sangat rumit namun terkadang bisa dikeluarkan begitu saja dalam konteks pujian. Memberi pujian berarti belajar memberi penghargaan, dan belajar menambah values yang bisa diisi dalam gelas hidup kita.
Tapi, pujian jangan sampai ditelan. Jangan sampai kau telan mentah-mentah dan lama-lama akan membuat feromon angkuh itu datang tanpa diundang. Ingat, di atas langit masih ada langit. Terlepas dari kenyataan bahwa ia hanyalah tujuh tingkat, tapi hakikat seorang manusia hanyalah menjadi yang terbaik, bukan merasa dia adalah yang terbaik. Mau dilobi seperti apapun, tidak ada manusia yang mencapai predikat terbaik selain Rasulullah SAW, bukan? Karena itu, jangan sampai pujian kau telan karena merasa kau yang terbaik. Ingatlah, terus lusuri jalan menjadi yang terbaik, meskipun kau tahu predikat itu sulit diemban. Namun, setiap manusia hakikatnya adalah hal paling terbaik yang pernah diciptakan. Pribadimu menciptakan stigma sesuatu yang terbaik dari hati, jangan risaukan
Sekarang, bagaimana kalau seorang manusia sedang berada di titik bawah?
Ya. Kalau kita ibaratkan dengan analogi gelas hidup tadi, bisa dikatakan seperti ini. Tidak mungkin Tuhan memberi kita begitu saja air yang bisa diisi ke dalam gelas tersebut. kita harus berusaha, bukan begitu? Namun, di perjalanan kau mencari air untuk kau isi ke dalam gelas hidupmu, ada banyak pelajaran yang harus kau petik supaya air yang kau cari tidak sia-sia. Disinilah letak titik bawah itu.
If you only keep on encountering the bestest without swallowing bitter experiences, then you should remember of your existance on earth: to find the source of learnings so you can capable enough to go to Heaven. The bitter aspect can be said as “Safe Haven”, the place of learning : the best one.
Betul kan?
I duplicate the concept of this post from a friend of mine’s note in facebook. And I actually wanted to post this as a note in facebook, but regarding my 17-seems-too-much amounts of notes, I’m now posting this as a blog… ^^
This is my own A to Z list. My favorite things that are associated with alphabets …
A
Amigos
Spanish. Atau bahasa Indonesianya, teman. Saya sangat membutuhkan makhluk multiguna ini. Selain sebagai tempat meminjam komik dan tempat berhutang, saya membutuhkan mereka untuk ember-associated-soul yang bisa jadi curahan hati untuk menangis sekaligus tempat penampung tawa ketika bersama. Benar-benar multiguna. Dari belanja bersama sampai pesta narkoba.
B
Baca
Satu hal yang mungkin paling saya fanatik-i sedunia. Tidak ada yang bisa mengalahkan ketidaksesuaian waktu saya membaca. Saya bisa membaca kapanpun, dimanapun, dalam kondisi apapun. Sampai-sampai ketika makan saya harus membaca. Buku apa saja, mulai dari Detective Conan sampai GoGirl! Asosiasi sekali dengan satu kata yang berhuruf awal sama , brain. Membaca saya lakukan untuk memanjakan otak saya. titik. tidak boleh ada perbedaan pendapat.
C
Cerita
Saya termasuk orang yang sering membuat cerpen. Mulai dari kisah peri khayangan yang diutus ke Bumi untuk menggagalkan kehancuran bumi, nasionalisme anak muda, putus cinta, sampai renungan hidup pernah saya adopsi temanya untuk cerpen. Cerita membuat jiwa saya lebih lembut, dan saya sangat menyukai hal itu.
D
Dinul Islam.
Bahasa Indonesianya Agama Islam. Agama yang saya anut, agama yang saya yakini, prinsip terkuat yang niscaya tidak akan digolehkan oleh waktu. Silahkan saja angin hembuskan. Tidak akan ada yang bisa merubah prinsip saya tentang ini. Titik.
E
Eragon
Saya, dulu, termasuk fanatik serial novel yang diberi tema umum Inheritance ini. Saya suka sekali bahasanya yang mengalir cerdas dan ceritanya yang sangat fanatis. Setiap plotnya dibangun rushing dan membuat adrenalin saya terpacu. Terlebih lagi, pengarangnya ganteng. Whoops. hehe.
F
Facebook.
Oke. Sekarang saya mengakuinya. Saya membutuhkan facebook. Lebih dari seluruh situs yang ada di dunia. Candu tingkat kronis. Bodoh amat si Zuckerberg membuatnya dengan kode curian (walaupun kerugian sudah diganti) yang penting saya butuh facebook. titik.
G
Still the same peculiar site. Kenapa sih Larry Page sama Sergey Brin cerdas sekali sampai harus membuat situs serbaguna seperti ini. Sampai-sampai ada anekdot “Is Google God” yang beredar.
H
Hiccups
Yang ini saya benciiiii sekali. Tapi sekalinya dapet saya bisa mendapatkanya lebih dari 3 menit. Cegukan. Makhluk paling laknat di dunia tapi kok bisa-bisanya sering menghinggapi saya. Huh.
I
Instant Noodle
Mie Instan.
Katanya sih tidak bergizi. katanya sih bisa bikin kanker. tapi saya memasaknya sehat kok, air kaldunya dibuang dulu, dimasak pake air sendiri. Jadi zat kimia untuk melekatkan mie itu dibuang (baca: alibi). Mie instan ini enak sekali sih. Hidup indofood. *tidak jelas*
J
Jalan-Jalan Naik Angkot.
di Padang, for specific. Angkot Padang sangat bagus dan tempting sekali untuk dibawa jalan-jalan. Hihi.
K
Kamar
Saya termasuk kategori anak rumahan. tidak suka keluar terlalu sering, dan malas mandi. Sehingga kamar merupakan tempat paling pewe sedunia dibanding mall, klub (walaupun gak pernah seumur hidup kesana) dan restoran.
L
Lord
Tuhan. Tidak perlu ada penjelasan lebih lanjut. Tidak ada yang bisa mengungkapkan kata-kata mengenai dzat yang Maha Mulia ini. Ungkapan kata-kataNya jauh lebih dahsyat dibanding syair manapun.
M
Makan.
Oh oh oh oh oh oh. Suatu kegiatan yang sangat disukai seluruh makhluk di seluruh dunia. Memanjakan perut yang berbunyi dengan kenikmatannya yang membelai sisi terdalam lidah. Oh tidak. Saya ingin makan lagi.
N
Nervous
Gugup. Suatu kesialan yang sering menghinggapi dahulu. Cuma saja akhir-akhir ini saya jarang ada di panggung. Hehe.
O
Obat Sakit Kepala
Kalau lagi dirundung tugas kuliah, apapun saya korbankan untuk membuat kepala tidak pusing. Dan makhluk ini menyelamatkan saya dari tragedi kebut semalam.
P
Perasaan
Suatu anugerah terbesar yang diberikan kepada manusia. Saya sendiri sebenarnya bingung dimana makhluk ini ditempatkan. Tapi yasudah. Kalau sakit cinta kan yang sakit dada. jadi saya anggap saja di jantung. apapun itu, terima kasih sudah ada dalam tubuhku. It’s like, when you feel a warm flare bursts into your whole body and reminds you of your existance in being a human. That simple, really.
Q
Queen
Saya adalah ratu untuk diri saya sendiri. Ratu. Pemimpin untuk diri saya sendiri. Tidak boleh ada orang lain yang menentangnya, ini keputusan saya.
R
Realitas
Kenyataan kadang memang menyakitkan, tapi saya selalu menyukai setiap kenyataan yang dihadirkan di setiap episode hidup saya. Potongan-potongan kejadian yang menyakitkan itu tiba-tiba jadi indah sendiri kalau saya mengingat betapa Tuhan sangat bijak mengatur potongan realitas itu dalam hidup saya.
S
Suara
Suara hati. Suara Jiwa. Suara.
T
Tahu Brontak
Oh, saya benci menulisnya. Kenapa pak Ujang (pembuat Tahu Brontak) hanya memasarkan tahu brontak itu di Padang saja. Jelas-jelas saya sangat membutuhkannya. Tahu yang dibalut adonan bakwan dan digoreng. Tapi, ini BEDA. Harus dicoba sendiri.
U
Undian
Ada yang bilang, hidup ini seperti undian. Ada satu kotak besar yang isinya kertas-kertas yang akan kau pilih sendiri. Saya setuju. Tapi seumur hidup saya saya tidak pernah melihat ada kotak sebesar itu untuk menampung pilihan hidup saya. Terlalu banyak.
V
VW
Tidak tahu kenapa. Saya tulis saja. Lucu sekali sih mobilnya.
W
Wanita
Makhluk kuat yang ditakdirkan untuk berada di sebelah lelaki yang kuat juga. Makhluk yang ditakdirkan untuk berada di pundak kesuksesan lelaki. Tapi sekarang sih jamannya emansipasi wanita. Wanitalah yang terdepan. Tidak tahu harus setuju atau tidak.
X
X-Men
Urgh. Hugh Jackman ganteng sekali jadi manusia. Saya jadi naksir.
Y
You
Saya membutuhkan sesama: You.
Z
Z
Tidak ada kata yang harus menjelaskan. Menurut saya, huruf Z itu lebih nyata dari semua kata kombinasinya. Huruf Z itu mencerminkan akhir, bahwa akhir itu kadang lebih indah dari permulaan. Saya kira, cukup satu huruf untuk akhir ini.
GARIS-GARIS SUARA RENUNG
I think…. the way I foresee the glimpse of his eyes really attract me to the brim..
I just could not reverse the way he saw me that time…
It covered my lip a lot, and befriended my soul as if I am in jail.
A jail that can lead to dysfunction.
I really hate this situation.
Where my head is filled with a googol of his face.
Man, can you bring me up?
****
Sharika melihat jelas citra wajah pria yang baru saja dipandanginya beberapa waktu yang lalu. Seperti pergumulan cahaya membentuk berkas wajah terindah.
Menutupi bagian terdalam hatinya yang sudah dilumuri lumpur penghianatan cinta.
Ya, itu terjadi… beberapa waktu yang lalu…
****
My soul is full of some kind like euphoria of finding a real soul.
Thoughly I do not believe at love at first sight,
But I do know one thing,
That man is my soulbud.
****
dan waktu pun melenggang mundur….
****
Ia baru saja menangis selepas meninggalkan Taman Menteng. Ia pikir sore itu adalah sore biasa yang ia lakoni setiap kali kencan bersama pria tersebut.
Ya, pria itu. Pria yang sekarang menyebut namanya pun ia tak mau. Hatinya terlalu sakit dibuai penyesalan dan berbagai rasa yang seharusnya tidak boleh ber-
gumul di permukaan.
“Aku sakit, Shari. Aku sakit karena kamu. Jangan pernah menemui aku lagi. Sudah cukup aku yang menderita karena semua kelakuanmu ini.”
Pria itu terlihat memendam semua lautan perasaan yang mengalir di dasar keluhannya.
Tapi aku tidak mengerti, apa kelakuanku yang membuat semua keindahan ini terasa jungkir balik? Kemarin, semuanya masih berjalan seperti biasa. Aku masih
mengucap kata cinta yang biasa, seperti halnya tiga tahun yang lalu. Saat kita memulai mengikat pita hubungan yang, pada saat itu juga, sudah menitikkan
tinta perjalanan.
“Kelakuanku yang bagaimana, Ndra?”
“Tuh. Masih saja tidak sadar. Cewek macam apa kamu?”
Aku tidak memercayai kata-kata yang baru saja kudengar. Ia berubah, mendadak, 180 derajat. Ada apa, ini? Aku… marah. Tapi marah pun aku tidak sanggup, karena aku telah terbiasa menjalani hubungan tiga tahun yang terlalu flawless. Mulus, hanya satu-dua butir kerikil yang mewarnai perjalanan. Apa ini salahku?
Kalaupun ia salahku, apa? Apa itu tuntutanku untuk membiarkan hubungan tiga tahun tanpa hambatan berarti? Apa aku yang terlalu memaksakan? Atau… Ia yang memendam semua? Ia tidak pernah memberitahuku bahwa ia menginginkan hubungan yang thrilled up dan plot cerita yang menegangkan, bukan fairy tale yang membosankan bagi para pria.
“Kau tidak suka cerita dongeng?” ucapku. Berharap ia mengerti.
Ia tersenyum, senyum termanis yang pernah kulihat setelah mengarungi samudra tinta ini bersamanya.
“Akhirnya pengertian itu kau dapatkan. Terima kasih. Tapi kita tidak cocok, Sharika. Aku terlalu petualang untuk menghabiskan hidup bersama putri. Jiwaku mengembara di hutan, bukan tertinggal di istana.”
Aku tersambar. Tidak. Tidak mungkin.
****
Aku berjalan pulang. Masih berjalan pulang. Aku akan terus menerus berjalan sampai aku selesai memberitahumu semua tentang kisah hidup yang terlalu menyesal untuk kuungkapkan. Mari kumulai. Sesaat lagi. Singkap drama akan dibuka.
****
I gazed up through the window of air. It gave me a serve of questions that were written and made me shocked.
He said that I ruled our relationship too much. that I wanted to be the princess and he’s the prince. Whereas he wants to be the adventurer and I am the Pocahontas. Am I wrong of building the plot like that? Flawless.. As if fairy tale that has only a few bunch of rocks? I was very scared to enter a relationship that is thrilling and full of tears. I thought that it was nonsense to live happily after squeezing a path that even walking an inch is very hard.
But as I am walking the road, I realize that my point stands as wrong. It is very chicken to face reliefs without producing tears.
Right?
****
“Putri, aku putus.”
Aku bersuara dengan tenaga yang tersisa. Sudah terlalu lemas untuk menyadari kenyataan dan tidak ikhlas bahwa semua ini benar-benar terjadi. Garis hidup ini begitu tidak kusuka, benar-benar ingin kuubah. Aku ingin berbelok pulang, kembali ke masa lalu, dan memperbaiki belokannya yang salah. Bahwa aku merasa aku telah memilih pilihan yang terlalu riskan. Mengapa di setiap sisi hidupku, harus ada percabangan jalan yang tidak bisa kulihat ujungnya? Mengapa tidak ada pertanda khusus tentang cerita hidup yang akan tertulis jika aku memilih percabangan hidup yang berbelok ke kiri, ataupun ke kanan? Mengapa Tuhan sekejam itu membuat perumpamaan? Tidak adakah cara lain untuk menapaki garis hidup? Aku mengerti bahwa hidup harus memiliki dua sisi, baik dan buruk, tapi mengapa sepanjang hidupku, rasanya kulihat beberapa orang tidak pernah, dan tidak diizinkan, untuk menjalani garis yang baik?
Ku harap aku suatu saat akan menemukan jawabannya. Jawaban yang mungkin akan dimulai gerbang petunjuknya…. sekarang.
Kembali kulihat ponsel yang kugamit di tangan kananku. Menunggu jawaban Putri.
Tetapi yang kudengar bukan keluh kesah sahabat akan garis buruk sahabatnya. Bukan amarah yang menggebu. Tapi desah senyum dan harapan.
“Tenang saja, Sharika. Semuanya sudah tertulis. Semuanya akan menjadi mudah ketika kamu ikhlas. Ada suatu kelegaan dan perasaan yang luar biasa ketika kau berhasil menyeruakkan rasa ikhlas itu ke permukaan. Semua jalan hidupmu sudah tertulis. Kau berhak menentukan. Ingat, jangan regret semua. Semua hal yang terjadi di hidupmu ada karena suatu alasan. Kau boleh marah-marah untuk meneriakkan amarah, tapi jangan menyalahkan Tuhan. Sekarang, menangislah. Dan hadapi esok dengan senyum ketika perasaanmu sudah bisa diajak ngerumpi. Oke, sayang?”
Sejenak aku tersenyum mendengar sajak puitis yang diucapkannya. Hatiku serasa dibelai-belai, dan ini merupakan kata-kata terbaik yang pernah dikeluarkannya… untukku.
“Nggak usah gitu amat kali ngomongnya, Put. Hahaha. Habis baca buku sastra apaan lo? Kesambet?” ujarku berusaha ceria.
“Sekali-sekali jadi keturunan ke-57 nya Pramoedya Ananta Toer kan gapapa kali, Shar. Hahaha.” Putri mulai membuka gerbang canda di awan kelabu hariku.
Dan mulai sekarang…. aku sudah tertawa.
****
Aku mulai menapak pulang. Tinggal satu kilometer lagi untuk mencapai rumah. Kakiku sudah mulai menunjukkan tanda-tanda ‘marah’, dan kurasa istirahat di antiklimaks perjalanan merupakan pilihan yang bagus. Tunggu. Aku mengucapkan kata itu lagi. Pilihan. Arrggghhhhh. Otakku mulai memanas.
Akhirnya kulihat bangku yang terletak di sisi jalan. Tempting sekali untuk diduduki. Ah, sudahlah. Damaikan dulu amarah kaki ini. Mungkin dia terlalu capek bekerja sedari tadi. Mungkin di perjalanan tadi sakitnya kututupi dengan amarahku yang begitu meluap tapi tak bisa kulampiaskan.
Aku mulai duduk. Kulihat pemandangan di hadapanku. Semuanya tertata rapih. Semua bagian kompleks ini tertata dengan sangat indah. Kulihat pohon besar yang membelaikan angin sejuk, meraih bagian-bagian udara dengan rantingnya yang mengepak luas. Kayunya berwarna cokelat tua, terkesan kokoh dan kuat mencengkram tanah yang dipijaknya. Kulihat juga disitu burung-burung duduk di rantingnya, mematuk-matuk kayu pohon untuk mengambil biji yang menjadi makanan mereka.
Lalu kudengar suara-suara yang menggema dari rumah yang berada di belakang pohon itu. Rumah bercat putih yang didesain dengan bagus, minimalis, memiliki rangkaian batu yang sangat indah. Pilar-pilarnya dilapisi keramik krem dan diukir dengan gambar yang sangat artistik. Di jendela tingkat dua rumah itu, kulihat bayangan seorang ibu yang sedang menggendong bayi, dan suara ayah yang baru saja menghampiri mereka.
Mereka kemudian membuka jendela yang semula membiaskan bayangan itu. Dengan pendengaran yang berusaha kutajamkan, aku mendengarkan kata demi kata yang mengalir indah, dan sanggup menegakkan bulu romaku.
“Ibu dulu sepertinya tidak menginginkan kelahiran Keysha. Sekarang kenapa jadi menggebu-gebu seperti ini? Hehe.” Kulihat sorot mata seorang ayah yang menggoda, berusaha mengulik kenyataan dari istrinya yang sedang mengelus-elus pipi bayi itu. Ia berbicara cukup keras,terlebih sekarang mereka menuju beranda, Dari kejauhan aku tidak mendengar jelas. Tapi kudengar ibu hanya tersenyum.
“Rasanya waktu itu aku sedang diuji, Mas. Sekarang rasanya lengkap.” ia menggumam.
Dan kata-kata selanjutnya tidak bisa kudengar lagi. Karena kurasa Tuhan sudah menggemakan bagian itu saja, untuk membuatku sadar akan daftar pertanyaan yang kutanyakan di pertengahan perjalanan tadi. Sekarang, aku menyadari sesuatu. Sesuatu yang sepertinya begitu spesial.
Aku tidak tahu itu pohon apa, karena sekilas sama saja seperti pohon besar lainnya. Tapi yang pasti, pohon itu membuatku menyampaikan renungan dengan deras.
Pohon tidak pernah meminta untuk menjadi ‘pohon’. Pohon yang mengemban tugas berat, untuk menghidupi manusia dengan udaranya, menjadi bagian ekosistem, memberi makanan kepada burung, menjadi media berteduh, Memberi makanan untuk manusia, dan lainnya. Tapi, ia tetap berusaha untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Meskipun kutahu tumbuhan telah diberi fitrah tersendiri oleh Tuhan. Ya, ia tidak bisa mengeluh akan tugasnya, dan tidak memiliki akal seperti halnya manusia. Tapi kusadari satu hal.
Aku, sebagai manusia, juga diberi tugas berat. Aku telah ditakdirkan sebagai ciptaan terbaik Tuhanku, dan memiliki tugas yang jauh lebih berat dibanding
pohon yang sedang kutatapi sekarang. Hidupku memiliki tujuan akhir. Dan, untuk mencapai tujuan akhir itu aku harus menapaki kelas demi kelas. Untuk naik kelas selanjutnya, ada berbagai ujian yang harus kuhadapi. Jika aku berhasil menghadapi ujian itu tanpa keluh, dan tetap berada di jalur norma agamaku, aku percaya, aku pasti sudah ‘naik kelas’.
Cobaanku sekarang, adalah ujian naik kelasku. Dan pilihan yang dihadapkan kepadaku tidak ada yang baik maupun yang buruk. Setiap pilihan memiliki alasan. Aku tidak harus memikirkan mana yang baik dan mana yang buruk, dan bagian mana yang lebih bahagia, mana yang tidak. Setiap pilihan PATUT dicoba.
Yang harus kulakukan hanyalah melakukan yang terbaik yang kubisa, untuk setiap pilihan yang kuambil.
Sekarang, ganjalan hatiku serasa menghilang. Raib. Yang tinggal hanyalah rasa ikhlas yang datang tanpa kuminta, namun tiba disaat yang tepat. Rasa ikhlas yang tiba ketika aku sudah mendapat pengertian mengenai sesuatu dengan mantap, dan hebat. Luar biasa memang rasanya, seperti kata Putri. Aku mengerti sekarang. Luar biasa.
Sekarang, aku siap berjalan pulang. Kakiku mulai menapak jalan yang masih basah karena hujan yang turun beberapa jam yang lalu ini, dan kulihat cahaya terang dari jejalanan yang siap menggiringku menuju akhir yang indah.
Seperti apakah akhirku? Ku ingin tahu.
****
Memang, hal yang terbaik akan tiba pada waktunya. Aku mendesah pelan dalam tidurku yang nyenyak malam ini, ketika aku sudah berada di akhir perjalanan panjang yang penuh renungan, tetapi sepertinya …
Garis hidup indah baru akan dimulai… lagi.
****
And as another journey ticked the realm…
I saw his sweet face traveling on my curious mind and sipped my every little turn smoothly
His face met up my every journey with a sweet beginning and ended up not crashy.
I skipped the memory of my dreadful path and switched up finding sweets.
I chase the beauty of fate on my invention.
And now I’ve figured it out…
My soul is full of some kind like euphoria of finding a real soul.
Thoughly I do not believe at love at first sight,
But I do know one thing,
That man is my soulbud.
THE END
Picture’s taken from deviantart : http://saturdayx.deviantart.com
These facts I can call my own.. hahaha.. ga zelash gimana si ni. hohohoho.
There are just few facts people may not know about me. Secara ajeah kuis How Well do You Know Me di fesbuk dikit bener skor di atas 50%nya… so for you bloggers, silakan menikmati indahnya perjalanan menelusupi pribadi orang lain ini *apa deh…
1. Nama Nessa diambil dari nama murid mamakuu di Payakumbuh, Sumatera Barat…. katanya orangnya cantiiikk gitu. Jadi dijadiin namaku deehhh. Huahuahuahuahua. Kalau nama Alia dari nama anak dokter anestesi, Aliyya Rifki,,, kebetulan jadi dokternya emak gw… Jadi, nama saya KOPIAN semua.
2. Makanan kesukaan = nasi uduk di seberang kosan. Tapi bentar lagi mau pindah. Hikss. Gapapalahya. Tiap pagi bisa escape kesitu. Wong bukanya ampe jam 11, huihui.
3. Punya hasrat wisata kuliner ke Jakarta Kotaaaaaaaaa…. tapi ga kesampeannnn ![]()
4. Suka banget parah sama yang namanya GADO-GADO SPESIAL GAPAKE LONTONG PAKE TELOR+EMPING di FKG UI. Uenak tenanns. Tapi sayang akhir-akhir ini penjualnya minggat. HUAAAAAA.
5. Tempat favorit = kosaannn. Hahaha, ini kosan dbest sedunia. Meskipun semua tempat di salemba pada seyem semua, lampu kosan gw tetap terang benderaaanngg, jadi mau pulang jam berapa pun ga takyut :p *tapi bikin aku jadi pemalas. Jarang belajar, huhuu,, jadinya pindah ke asrama deh ![]()
6. Pengen banget nonton film cewek kayak Bride Wars di XXI… tapi yang ada tiap kali ke XXI nonton film perang muluk… hahahahaha.
7. Bete kalau hari minggu. Alasan: tempat nasi uduk ga bukaaa, tempat makan yang buka bukan favorit gue semua, kosan jadi sepiiii, terus besoknya udah kuliah lagiii ![]()
8. Berangkat buat SIMAK UI jam LIMA PAGI. Perjuangannya beraattt sekali untuk mencapai tempat ujian. Macet lah di pasar kramat jati sialan itu. Sehari sebelumnya salah turun halte, tapi dibayar dengan kesuksesan lulus di FKUI ![]()
9. Kakinya ga bisa diemmmm… kalau ada space kosong pasti jalanjalan terus maunyaa. Tapi di FKG dianggap pendiem. hahaha.
10. Pengen punya DVD anime Yakitate Japan!!!! Ada yang bisa ngasi tau dimana tempat jual DVD yang bagus di Jakarta? Ayo doong. Hehehehehe.
11. Kalau makan harus baca buku. Buku apa aja. Kadang-kadang, Sherwood-Martini jadi korban. Hohohoho.
12. Pengen ke Manado, Bunaken, Irian Jaya, Los Angeles, Singapore, Lombok, Bali (lagi), Osaka, Okinawa, terus ketemu Aoyama Gosho, pengen wawancara dia, terus ngulak-ngulik akhir cerita Conan (apacoba), terus ke Beverly Hills (ngayal amat gue), ke Jerman (S2 sih maunyaa) terus ke Madame Tussaud’s… sama foto di samping patung lilin Justin Timberlake…
13. Ga bisa naik sepeda… Worst banget kan… Sama ga bisa berenang.. even pun ngapung :’(
14. Punya hasrat kecil jadi desainer padahal ga bisa gambar.
15. Jakunnya kekecilan. Hahaha. Berharap jakun FK nantik ga kekecilan :p
16. Pengen make behel. Tapi takut giginya sakit… Ga mau mematahkan rekor ga pernah sakit gigi selama lima belas tahun ![]()
17. Kangen jajanan SD = chicken nugget di tusuk sate, gula-gula, kerupuk kuah, batagor, siomay di deket SD, martabak, dll. Huaaaaa, pengen jadi anak SD lagii. Ga perlu ngafal kalo ada ulangan, kalo hujan bisa main-maiiinnnn :p
18. Pernah jalan dari Balairung ke Teknik mau ke kutek. Terus pas udah nyampe teksas. Bingung gimana cara keluar dari Teknik saking LUASnyaaaaaa. Beda sama FKG yang sempit naujubile.
19. Pernah bayar taksi gratiiissssss…. ![]()
20. Seneng dengan keberadaan basweiiii… hahahaha. Membuat orang yang buta peta seperti gw bisa jalan-jalan di Jakarta yang luasnya entah berapa kali lipat Padang.
21. Ga bisa olahragaaaaa :((
22. Akhir-akhir ini gampang menangis. Tidak seperti nessa-hati-batu yang duluuu. Nontn Red Cliff aja nangis gw. hehehehe.
23. Sempet ga mau make jilbab karena alasan najong “NANTI KEPANASAN”. Ternyata pas udah make, jadi bersyukur ![]()
24. Berterima kasih karena dimasukkan ke FKG UI 2008… banyak pelajaran hidup yang bisa diambiilll…
25. Selalu percayaaaaaa, kalau rencanaNya untukku pasti dirancang dengan indah. So, what to worry, right? ![]()
26. di FKG UI pertama kali tergabung dalam PBL 1. Tapi semester dua pindah ke PBL 10 (kelas bahasa Inggris) –> regarding the quiz in facebook. banyak bener yang salah. hahaha.
27. Hanya sekali ke luar negeri. Itupun GRATIS. hahaha. International Conference di Egypt. Terus singgah di Singapur bentar *pity me, lol.
28. Masa-masa paling menyenangkan ketika 1 tahun di UI = OBM. hahahaha. The bestest lah ini. Belom ada pressure tugas, ketemu sama teman-teman seantero UI, playing games…. mauuu lagiiiiii ![]()
29. Dulu pernah ogah bangetbangetbanget masuk FK UI demi Faculty of Biomolecular NTU. Pas pertengahan 3 SMA baru menggebu-gebu lagi. hahahaha. Alhamdulillah diizinkan masuk ![]()
30. Wish me luck in the next tortorous 5 years yaa. hahaha
Aku ingin bersajak. Tentang kisah singkat yang dibombardir permainan hati dan air mata. Suatu seni untuk bertahan yang begitu kuat dipagut keegoisan. Tapi berjalan begitu sunyi di rumpun hidup yang pebuh kejutan. Silakan baca seninya, resapi kata-katanya, dengarkan indahnya. Kau akan menemukan keajaiban cinta yang tidak pernah diungkap sebelumnya. Pengorbanan sejati.
Teman, aku punya carik cerita
Tentang bagaimana hidup membuatmu bermain di ombak
Merajut khayal, menyulam mimpi, berdengung sunyi.
Bernyanyi.
Tentang Bagaimana kau serasa dibuai oleh ombak.
Puncak. Lembah. Kaki.
Ceritaku tidaklah seindah rumput memetik alam.
Tidaklah seharmonis air dan udara.
Namun ceritaku mampu membuat hidup.
Jumpalitan.
Karena perasaan terlalu egois untuk mengaturnya sendiri.
Ceritaku dimulai dari sini.
Dari gerong sunyi yang menguapkan segala hawa kisah.
Sehingga cukup melukiskan berbagai lautan kasih yang membara di bawahnya.
Ceritaku mendengung lewat suara tangis nyanyian cinta.
Yang aku sebarkan lamat-lamat dan terbentaskan sendiri.
Aku tak berani.
Namun, dengarkanlah kisahku.
Yang terlalu berat untuk ku simpan sendiri.
Teman,
Di dalam kereta ini, aku bernyanyi.
Bernyanyi nyanyian cinta yang paling indah.
Merasuk sesal yang terlanjur terajut.
Belupakan bahagia yang terpasung.
Indah. Tanpa diketahui sendiri.
Aku bernyanyi.
Setiap kali tak kulihat celah disela kanal hidup.
Yang kuinginkan selalu terpatri.
Kawan,
Kubiuskan setiap air mata yang berserakan dalam gerbong hampa ini.
Tanpa kenal. Tanpa letih.
Kujajaki mimpi setiap kali ku terperangah.
Masih.
aku ingin bernyanyi, kawan.
Entah kapan kubisa.
Sahabat,
Di dalam kereta ini, hatiku berdegup kencang.
Degup yang sanggup meniupkan senyum.
Lelah.
Tanpa arti yang terasuki.
Tidak, tidak, aku pikir.
Putuskan saja tetalian mimpi tak berujung ini.
kalau begini terus.
Aku bernyanyi, ku ingin, diiringi cinta, meski ku tau tak bisa.
Aku lelah, meski kutahu, ku tak ingin.
Mimpi ini terlalu muluk-muluk untuk kusimpan sendiri.
Terlalu berat jika harus kuikat sendiri.
Tidak…
Tidak sanggup.
Lalu kuberpikir.
Sunyi, tiada sendiri.
Semua tangisku.
Semua sesalku.
Aku yang harus menghapusnya sendiri.
Aku yang akan membentaskannya sendiri.
Selaku noda tiada air.
aku akan terus berjalan.
Karena, ini hidupku.
Akulah yang berhak menentukan.
Akulah yang berhak menggambar titik-titik nasib dalam peta hidupku.
Aku yang akan mengatur mimpi-mimpi itu…
jadi ringan sendiri.
Kawan, seiring kereta ini telah menyudahi perjalanan….
Kuingin sampaikan, makna suatu kisah yang dihiasi tangis dan tawa..
Karena, sekalian kau selamat jalan kau akan selamat sendiri..
Jangan sekali-kali kau terpekuk, nyeri, terhambat, sunyi, di akhir perjalanan.
Karena, jalan hidupmu telah tertulis.
Kau berhak menentukannya. Jangan sekalipun kau malu. Karena mimpi itu terlalu hina jika tidak diwujudkan.
Tanpa tangis.
I get many many many many life-guilty-pleasures coming at the same time and turns my head really in a great swing. heheheh
Contohnya kemarin, saat saya memutuskan untuk tidak ikut praktikum hari Jumat, maka saya bisa BEBAS BERMAIN hari Kamis malamnya. Nah,, waktu bermain ituuuuu saya manfaatkan untuk hal-hal yang sangat tidak penting, betapa bodohnyaaa
:
1. Main facebook. Isi kuis facebook. Isi wall temen. Lihat notes manusia-manusia facebook. Liat foto-foto. Tagmypals. Dan hal-hal sejenis (sindrom ga penting: stadium 1)
2. Baca kelanjutan manga Detective Conan sama Yakitate!! Japan di onemanga.com ,, instead of buying Shonen Star yang gw maklumi harganya mungkin udah dua puluh ribuan lebih. hahahahaha. Akibatnya: semua kasus konan 53 akyu sudah baca
(sindrom ga penting: stadium 2)
3. googling dengan keywords yang amat sangat tidak penting sedunia dalam rangka menebak akhir kisah Detective Conan: AGASA IS THE HEAD OF THE BLACK ORGANIZATION ,, terus buka situs hasil googling, nyebur dalam forum pecinta conan, dan find out SOME GREAT NEWS!!!! HAHAHAHA (sindrom ga penting: udah STADIUM 4 banget ini mah)
Nahhh, pertama-pertama, mengapa saya memutuskan harga stadiumnya seperti itu???
1. Facebook ditempatkan di stadium satu. Why? Karena memang semua orang bernasib sama denganku. ohohoho. Ga cuma saya doang kan yang hobi ngisi kuis facebook segala macem. In fact, facebook has been becoming a NEW LIFESTYLE. Facebook bisa disejajarkan dengan e-mail :: HARUS DI-CEK. dan ga cuma saya doang yang berpikiran seperti itu, tetapi juga pemilik BlackBerry, iPhone, segala macem. Ya ga sih? Kalau mereka ga berpikir facebook is a lifestyle, buat apa toh mereka bikin aplikasi Facebook Mobile? Selain itu, ngisi wall temen-temen juga membantu kita mengembangkan insting sosial, a good grief huh? Nahh, kenapa dikatakan ga pentiiinnggg.. ya ngisi KUISnya itu. ahahahahahaahahaha. Tapi, terkadang itu juga jadi ajang -mempererat diri- sama orang-orang kookk… ^^ karena orang jadi tau kepribadian kita yang sebenarnya. Ya kan? Karena itu, label ga pentingnya cuma satu. Hahaaha.
2. Nah, yang satu ini (baca Conan) adalah ga penting stadium dua. Instead of reading it, sebenarnya gue jauh lebih baik baca buku Sherwood, Mary-Bath, or some. tapi, Conan adalah refreshing pengetahuan dan analisis logika yang MENYENANGKAN. Karena Conan, saya bisa melatih analisis berhitung dan logika saya lewat konstruksi kasusnya yang rumit-rumit. Saya juga bisa menambah pengetahuan lewat analisis kejadian yang diutarakan Shinichi. Masih ingat ga? Kasus CONAN no. 42, dimana sang pemilik rumah design dibunuh pas makan Burger dan tujuan Conan+Ai+Agasa kesitu adalah untuk mencari ‘peninggalan’ kakak Ai yang ditinggal di Toilet? Nah, disitu Conan ngomong gini “Ketika kita memakan sesuatu, isi usus besar terdorong ke Belakang, karena bentuknya yang seperti huruf S. Karena itulah pelaku menyiapkan kopi kepada korban, supaya waktu buang air besarnya bisa diatur” . Itu nambah pengetahuan juga kan? Aku juga ingat banget pada Conan no. 30 yang mengatakan bahwa Heparin adalah zat anti beku darah dan membuat aku bisa menang Lomba Biologi karena menjawab pertanyaannya. jadi, baca Conan itu sangat sangat sangat menyenangkan dan menambah pengetahuan loooo. ![]()
3. nah, yang satu ini, saya akuin AMAT SANGAT GA PENTING PARAH. Ya ga sih? Conan terakhir aja tuh belom keluar, tapi imajinasi pecinta Conannya udah kemana-mana. Nahh di forum bebas sih, rata-rata pada pengin Shinichinya jadi gede lagi, terus Pemilik Organisasi Hitamnya ditangkap. Nah, ada beberapa suspect signs buat pemimpin organisasi:
a. Dia adalah orang yang sangat dipercayai Ai Haibara (ini diutarakan oleh Aoyama Goshonya sendiri), dia adalah orang yang sangat dipercayai dan tidak masuk daftar suspects sama sekali.
b. Namanya tidak palsu. Kalau Aoyama mengutarakan namanya, pembaca komik pasti langsung tau.
c. Dia bukan orang baru. Namanya pernah disebut di komik Detective Conan.
Maka itu, kecurigaan di arahkan ke PROFESOR AGASA. hahahahaha (ga penting banget ga sih? heehheh)
Nah, kenapa judulnya seperti itu??? Karena, terkadang saya juga tidak bisa melepas ketergantungan terhadap tiga hal di atas. Sampai-sampai ,seorang teman saya di facebook sampai ngomong.
“NESSA KOK ONLINE TERUS SIII?”
Buddies, how can I face these things properly, jadi waktu buat main sama waktu buat belajar ga numpuk? huhuhuhu
Keren banget looohh, awalnya ngeliat status ini di header kaskus.us, kirain salah satu postingan di kaskus juga gitu. ternyata pas dibuka, ada situs beneran! :p
Nah, kirain situsnya sama kaya another-boring-thingy gitu kan, ternyata pas diliat.. wah, penampilannya appealing banget.
Jadi, situsnya itu didominasi sama animasi. Animasi yang paling jelas itu adalah button RUMAH, KANTOR, n JALANAN.
Nah, jadi kalau setiap tombol animasi itu diteken, akan keluar suatu gambar berwarna, yang kalau kursor diarahin kesitu, ada informasi di bawahnya mengenai kemungkinan radikal bebas yang terdapat di benda tersebut, serta akibatnya ke tubuh kita.
Misalnya, gambar rumah. Nah, di gambar rumah itu ada benda-benda yang ditandai, karena mempunyai banyak kemungkinan terdapat radikal bebas. Contohnya, AC, TV, Karpet, Tirai, Kursi, Kompor, Kulkas, sampai TUMPUKAN BARANG. Misalnya tumpukan barang nih, kemunginan radikal bebasnya itu “partikulat debu, yang bisa berasal dari pewangi ruangan, obat nyamuk. Masuk ke tubuh manusia melalui saluran pernapasan,” (keterangannya lumayan panjang loh, tapi dikemas secara menarik di gambar seperti kotak di bawah animasi rumah, jadi enak dibaca) sementara akibatnya di tubuh manusia “mengendap di dalam alveoli, menginfeksi saluran pernapasan atas, membuat iritasi pada mata” banyak deh ![]()
nah, ini keuntungan pertama, bisa membuka wawasan dan bikin kita jadi lebih aware sama lingkungan sekitar.
Nah, masih ada lagi, misalnya Jalanan, radikal bebasnya bervariasi dari yang terdapat di ASAP ROKOK, ASAP KENDARAAN BERMOTOR, sampai JOK MOBIL!! misalnya dijelaskan bahwa jok mobil yang lembab dan jarang dibersihkan sangat disukai oleh partikulat debu yang mengandung kuman dan gampang sekali dihirup manusia!!
Wah, there’s more. ada DETEKTOR RADIKAL BEBASNYA juga, menunjukkan seberapa berbahayanya radikal bebas yang ada disitu.
Nah, untuk kantor, kotak dialog yang keluar pertama adalah tulisan WASPADAI PENYAKIT SICK BUILDING SYNDROME ![]()
Untuk kantor, possibilitiesnya ada di Mesin Photo Copy, Printer, Computer, Sabun/deterjen pembersih, meja, AC, asap rokok ,Mesin fax, sampe KARPET!!
nah, khusus untuk kantor, ada suatu quiz untuk menguji seberapa parahnya Sick Building Syndrome yang ada pada kita. Hanya saja, hasilnya tidak langsung muncul, namun dikirim lwt email, dan mengharuskan kita mengundang satu teman untuk mengikuti quiz yang sama ![]()
Slain itu, ada UJI RESIKO RADIKAL BEBAS juga, jadi kita tahu seberapa besar kemungkinan kita “dihampiri” radikal bebas.
KEREN BANGET KAANNN? BURUAN MAMPIR!
(betewe, nessa bukan marketer situs ini, tapi kagum aja, jadi promosi :p)
Okay, Courtesy from KASKUS.COM, here I show you some PLEASE-NO-SARA PICTURES yang sangat mengasyikkan untuk diliat.. hahaha…

SIAPA BILANG ORANG PADANG GA BISA NGOMONG A???
GILO!!!
….. wait up.
THERE’S MORE HERE ,BABY… DON’T GO ANYWHERE…

……… should I also call fairy tale as PAIRY TALE……?? No, no. PLEASE, no.
Wait, there’s more…
And this thing doesn’t go around on and on with F or P. It’s just the matter of how abysmal the taste of words that Indonesians got.
.
.
.
Here it is!

…… then If I got fever, I’ll tell my mom..
MA, KONPRESIN NESA DONG.
How about? Agree??


Recent Comments